Senin, 22 Juni 2009

SEMINAR KEPERAWATAN


SEMINAR KEPERAWATAN 2009


PENDAHULUAN

Perkembangan perawatan luka (wound care ) berkembang dengan sangat pesat di dunia kesehatan. Metode perawatan luka yang berkembang saat ini adalah perawatan luka dengan menggunakan prinsip moisture balance, dimana disebutkan dalam beberapa literature lebih efektif untuk proses penyembuhan luka bila dibandingkan dengan metode konvensional. Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan kontribusi yang sangat untuk menunjang praktek perawatan luka ini. Disamping itu pula, isu terkini yang berkait dengan manajemen perawatan luka ini berkaitan dengan perubahan profil pasien, dimana pasien dengan kondisi penyakit degeneratif dan kelainan metabolic diantaranya Diabetes Mellitus, semakin banyak ditemukan. Kondisi tersebut biasanya sering menyertai kekompleksan suatu luka dimana perawatan yang tepat diperlukan agar proses penyembuhan bisa tercapai dengan optimal.
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang akan diderita seumur hidup. Dalam pengelolaan penyakit tersebut selain dokter, ahli gizi serta tenaga kesehatan lain, peran perawat menjadi sangat penting. Penatalaksanaan komprehensif merupakan penatalaksanaan yang memerlukan teknologi kesehatan yang lengkap dan terkini bagi diabetesi, dengan tujuan mencapai hasil yang terbaik termasuk dengan mengatur asupan nutrisi yang sesuai.
Perawat memainkan peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan di setiap negara. Sedikitnya 50% dari semua petugas kesehatan adalah perawat sehingga perawat merupakan tenaga yang paling sering berinteraksi dengan masyarakat baik yang mengalami masalah kesehatan maupun yang sehat. Selain itu perawat merupakan anggota tim kesehatan garda depan di berbagai sarana kesehatan yang menghadapi masalah kesehatan klien selama 24 jam secara terus menerus.
Sebagai salah satu usaha meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia, kami Panitia Seminar Keperawatan Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Bitung bermaksud mempersembahkan seminar sehari dengan tema “Teknik Perawatan Luka Terkini” kepada para perawat serta tenaga kesehatan lainnya, mitra profesional Anda.

TUJUAN KEGIATAN

1. Memberikan pengetahuan keperawatan terkini dalam penatalaksanaan luka secara umum dan
secara khusus pada Ulcus Diabetikum yang sering dijumpai di masyarakat.
2. Mampu mengelola pasien secara mandiri di tempat praktek sesuai kompetensi.
3. Mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sehingga dapat berpartisipasi dalam
usaha peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.


SASARAN PESERTA

1. Perawat di Puskesmas, RS Pemerintah, RS Swasta, klinik swasta, Balai
Pelayanan, perusahaan se-Sulawesi Utara.
2. Mahasiswa Keperawatan seluruh sulawesi utara
3. Dosen dan praktisi keperawatan se sulawesi utara
4. Dokter PNS dan PTT Puskesmas, RS Swasta, klinik swasta, Balai Pelayanan,
dokter praktek pribadi se-Sulawesi Utara.
5. Tenaga Kesehatan terkait lainnya se-Sulawesi Utara.


TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN

Seminar akan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 10 Juli 2009, bertempat di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kota Bitung.


KEPANITIAAN
Pembina : Kepala Dinas Kesehatan Kota Bitung

Penasehat : Ketua PPNI Propinsi Sulawesi Utara
Ketua PPNI Kota Bitung

Ketua : Oldi Rembet, S.Kep,Ns.
Sekretaris : Maksi Puasa,A.Md.Kep
Bendahara : Imelda Lengkong, A.Md.Kep
Koord. Sie Acara : Nani Malik,SKep,Ns & Agus Waluyan.
Koord. Sie Sekretariat : Yane Sarimin,AMdKep,SKM. & Meity Humena.
Koord. Sie Usaha Dana : Berty Sandag,SE & Martji Leong,SKep.
Koord. Sie Perlengkapan/Keamanan: Frankie Rumthe & Boike Karwur
Koord. Sie Publikasi / Dokumentasi : Verdi Papuling,Amd.Kep. & Sisca Manurip,AmdKep.
Koord. Sie Konsumsi : Meike Komalig & I Nengah Suryata.


CONTACT PERSON DAN INFORMASI

Sekretariat Panitia Seminar Keperawatan
Jl Sam Ratulangi No. 45 Telp. (0438)31910 Bitung

Contact Person:

Oldi Rembet : 081340091075 / 08884516309
Maksi Puasa : 085240544445 / 08884552939
Imelda Lengkong : 085240671221 / 08884580059


SUSUNAN ACARA

08.00 – 09.00 Pendaftaran Ulang

09.00 – 09.30 Pembukaan
Ucapan Selamat Datang dan Sambutan2


SESI I

09.30 – 10.30 Teknik Perawatan Luka Terkini (Moisture Balance / Topical Therapy)
Oleh : Frengky Watung,SKep,Ns,ETN (Enterostomal Therapi Nurse) Spesialis Perawatan Luka Dan Stoma

10.30 – 11.00 Diskusi Sesi I
11.00 – 11.15 Demo Produk
11.15 – 11.30 Rehat

SESI II
11.30 – 12.30 Deteksi Dini Diabetes Mellitus Dengan Metode Terbaru
Oleh : Dr. Herman Adriansjah, SpPD.

12.30 – 13.00 Diskusi Sesi II
13.00 – 13.15 Demo Produk
13.15 – 13.25 Istirahat / Makan Siang

SESI III
13.25 – 14.25 Perawatan Ulcus Diabeticum
Oleh : Frengky Watung,SKep,Ns,ETN (Enterostomal Therapi Nurse) Spesialis Perawatan Luka Dan Stoma.

14.25 – 14.55 Diskusi Sesi III
14.55 Door Prize & Penutupan

Sabtu, 25 Oktober 2008

Massage Untuk Mencegah Decubitus

Peningkatan masalah yang dihadapi oleh pasien-pasien dengan penyakit kronis, pasien yang sangat lemah dan pasien yang lumpuh dalam waktu lama akan beresiko tinggi memunculkan dekubitus pada pasien tersebut yang merupakan penderitaan sekunder yang banyak dialami oleh pasien-pasien yang dirawat di Rumah Sakit. Adapun hal lain yang menunjang dekubitus sebagai penyakit yang harus dicegah perkembangannya yaitu biaya tinggi akibat penyembuhan luka, lamanya waktu hospitalisasi yang akan dilalui oleh pasien, dan yang terburuk adalah pasien meninggal akibat septicemia.
Penelitian menunjukkan bahwa 6,5-9,4 % dari populasi umum orang dewasa dirawat di rumah sakit, menderita paling sedikit satu dekubitus pada setiap kali masuk rumah sakit. Pada populasi pasien lanjut usia yang dirawat di rumah sakit, insidens dekubitus dapat menjadi jauh lebih tinggi. Meskipun pencegahan dan pengobatan dekubitus telah diteliti secara luas lebih dari 30 tahun terakhir ini, hanya terdapat sedikit bukti yang menunjukkan adanya penurunan insiden dekubitus atau adanya suatu perbaikan dalam pengobatannya.
Massage merupakan salah satu faktor yang dapat mencegah dekubitus, akan tetapi belum terbukti pengaruhnya bagi pencegahan penyakit tersebut.

Kecemasan Ibu Primipara

Selama dua dekade terakhir perhatian terhadap aspek psikis (ansietas) pada persalinan meningkat seperti halnya terhadap keadaan fisik. Tidak ada keraguan lagi bahwa aspek emosi pasien mempunyai pengaruh terhadap proses persalinan. Berbagai sumber ansietas antara lain adanya ketakutan yang pada bentuk lahirnya bisa tampak atau tersembunyi, ambivalensi (dua perasaan yang bertentangan) dalam bentuk permusuhan terhadap janin karena telah menyebabkan tubuhnya tidak sedap dipandang, tidak menyenangkan dan mengancam seksualitas atau keamanannya dan perasaan khawatir kehamilannya akan mengganggu hubungan pasien dengan suami, keluarga atau dokter.
Pasien hamil dengan ansietas cenderung melahirkan bayi yang lebih kecil. Pasien yang selama kehamilan mengalami ansietas, sering dihubungkan dengan meningkatnya kelainan kehamilan termasuk kematian janin dalam rahim. Menurut Thompson bahwa kejadian ansietas pada persalinan primigravida sekitar 67%, sedangkan Klein, Potter dan Dyk mengatakan bahwa kejadian ansietas mencapai 100%.Secara umum kejadian ansietas pada persalinan minimal terdapat pada 75% kasus.
Bukti-bukti di atas menunjukkan akan pentingnya suatu pendekatan yang efektif, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, serta di dukung oleh data yang akurat untuk mengatasi masalah kematian ibu dan bayi baru lahir. Pendekatan ini antara lain dengan melakukan penelitian mengenai hubungan kecemasan pada ibu yang dalam proses persalinan.

Dukungan keluarga Terhadap Ibu Primipara

Hidup sehat seorang calon manusia baru dimulai sejak terjadinya pembuahan, kehamilan sampai pada proses melahirkan. Meskipun masyarakat dan budaya kita telah banyak berubah sejak beberapa tahun terakhir, begitu pula cara-cara perawatan ibu pra dan pasca melahirkan berubah, namun proses melahirkan secara alami itu sendiri tidak berubah sejak dahulu. Tidak ada kelahiran yang lebih indah daripada kelahiran seorang bayi, namun tidak ada peran yang lebih baik daripada peran orang tua dan tentu juga bayi itu sendiri.
Bagi ibu yang melahirkan, masa sembilan bulan yang berakhir dengan lahirnya bayi, merupakan saat yang luar biasa, yang dinantikan sekaligus dicemaskan. Lamanya tinggal di rumah sakit setelah melahirkan berbeda-beda mulai dari satu atau dua hari setelah melahirkan melalui vagina kecuali jika ada alasan medis untuk tinggal lebih lama. Rentang waktu kehamilan, persalinan dan hari-hari pertama kehadiran bayi memperlihatkan beberapa tantangan. Hal yang biasanya mudah, kini penuh dengan ketidakpastian. Kadang-kadang banyak orangtua yang mengantisipasi kelahiran anaknya dengan kesenangan, sering mereka tidak mempersiapkan perubahan-perubahan yang terjadi.
Laporan Badan Pusat StatiStik (BPS) tahun 2005 menyebutkan angka kematian ibu secara nasional sebesar 262 per 100 kelahiran hidup, jauh lebih tinggi dari negara tetangga terdekat seperti Thailand (129/100 ribu), Malaysia (39/100 ribu) dan Singapura (6/100 ribu)
Angka kematian bayi baru lahir terutama disebabkan antara lain oleh infeksi dan berat bayi lahir rendah. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan kondisi kehamilan, pertolongan persalinan yang aman, dan perawatan bayi baru lahir. Hal tersebut diatas salah satunya terjadi karena ibu belum siap menjadi orangtua..
Menurut Singgih, Kondisi fisik diartikan karena ketidaksiapan si ibu melakukan perawatan bayi tersebut, baik secara material maupun immaterial. Dari tinjauan mental misalnya perkawinan terlalu muda, tidak adanya kesepakatan dengan si ayah bayi, dan perwakinan terpaksa. Sedang faktor sosialnya karena lingkungan tidak menghendaki kehadiran bayi tersebut. Bisa jadi, karena perkawinan yang tidak disetujui orang tua atau lingkungan yang lebih besar dalam hal ini sosial budaya tidak bisa menerima bayi tersebut. Selama ibu menjalani kehamilan harus mendapat dukungan baik dari suami, orangtua dan orang-orang terdekatnya. Dukungan ini akan membuat ibu mendapatkan suasana nyaman, terutama menjelang kelahiran bayi dan untuk kesiapan ibu merawat bayi.